Postingan

Lebaranku Antara Jawa-Sumatra

              Magrib ini akan menjadi pamungkas dari segala cerita: indahnya bulan yang suci, menyimpan berjuta berkah, melipat gandakan segala tingkah dan perbuatan. Perlahan akan berlalu. Tinggal menunggu detik aja selepas magrib; pengumuman dari Menteri Agama, semuanya akan tergantikan sorakan kemenangan.                 Ada yang beda memang. Jika sewaktu kecilku dulu, hari kemenangan telah disambut ba’da adzan maghrib. Sekarang tak lagi begitu. Cecok tentang penentuan hari kemenagan menjadi warna di negeriku. Ada yang duluan, ada yang terakhir atau apalah. Aku juga tak terlalu banyak mengerti tentang itu. Mana yang benar dan yang salahpun masih   samar. Tapi biarlah keyakinan masing-masing kita yang membenarkan. Karena hanya itu jawaban tertinggi. Keyakinan.

Sepasang Sayap di Punggungmu | Anda Pesan Buku, Kami Kirim Buku

Sepasang Sayap di Punggungmu | Anda Pesan Buku, Kami Kirim Buku

Pesisir Barat

Gambar
Fatan dan laki-laki bertubuh besar kini duduk bersampingan di atas bongkahan batu besar pinggir pantai. Walau mentari sudah ditelan samudera, mega merah tak lagi mengangah, kini sinar rembulan mulai meng g antikannya. Di dekat laki-laki itu, Fatan tak lagi menggigil gemetar ketakutan. Sedikit demi sedikit Fatan menetralisir rasa itu. Akhirnya, Fatan merasa nyaman duduk di samping laki-laki bertubuh besar itu, walau sejuta pertanyaan masih bersarang dalam benaknya.

Launching Novel Repasang Sayap di Punggungmu

Gambar
Mangun Kuncoro , Lahir di Bengkulu Utara, 09 /09/” 89. Masa kecilnya dihabiskan hanya untuk sekedar meniti durian runtuh sembari ayunan sunur-sunur tebing sungai. menyelesaikan Pendidikan Dasar di SDN 18 Bukit Makmur (2002), kemudian jenjang menengah di MtsN Ketahun (2005). Hingga akhir masa kanak-kanaknya harus menjalani takdir untuk merantau ke pulau sebrang nan asing. Memburu sebuah cita-cita sembari menyusun bait kisah pada kehidupan baru; menata asa merajut kisah tentang kekerabatan di Pondok Pesantren Al Maliki Bahrul ’Ulum Tambakberas Jombang Jawa Timur. Melanjutkan Sekolah Menengah Atas di MAN Tambakberas (2008)  . Saat ini penulis menempuh kuliah di STAI Bahrul ’Ulum.  Berjuang adalah kata yang selalu mengalir dalam darahnya. Kecakapannya dalam membimbing adik-adik Komunitas Pena (KOMA) Bahrul ’Ulum merupakan punjer dalam kiprah kepenulisannya. Ia juga tercatat sebagai Pimpinan redaksi majalah kampus KAPAS Media , pembina FIKRAH EVZHET, pembimbing orda PUTERA ...

KEJARLAH KEINDAHAN

Kala itu, begitu tebal kabut embun menyelimuti pagi. Sinar mentari yang menghangatkan tiap tubuh manusia dari kebekuan dinginya malam, tak sampai menyentuh hamparan permukaan bumi tempat mereka berpijak. Di atas pepohohanan, depan ndalem Abah Amin, terdengar kicauan burung-burung yang bersahutan dengan suaranya yang nyaring dan merdu, mengalunkan melodi harmoni alam menyambut pagi, mengiringi hembusan angin yang masih begitu segar, menyapa penduduk pedesaan dan perkampungan. Di atas lantai teras ndalem Abah Amin, Fatan, pandangnya menerawang jauh, menerbangkan angan, terduduk menunggu kedatangan beliau. Ia tahu, bahwa beliau belumlah kembali dari Masjid seusai mengimami para jamaah sholat Shubuh. Ruang tamu masih terlihat begitu sepi. Lampu neon 40 watt yang begitu terang memancarkan cahanya ke setiap sudut ruangan, masih belum dinyalakan, untuk sekedar menunggu datangnya matahari bersinar terang menggantikan.

Novel 'Sepasang Sayap di Punggungmu'

Gambar
Assalaamu'alaikum wr. wb. Bismillaahirrahmaanirrahim Pertama-tama kami panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat, hidayah dan segala kenikmatan yang diberikan kepada kita sekalian. Tak lupa shalawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad saw, keluarga, sahabat dan para pengikutnya hingga akhir jaman. Amien ya rabal alamin. Sepasang Sayap di Punggungmu karya Mangun Kuncoro , sebuah novel yang ditulis oleh penulis yang tengah menjalani perjalanan menempuh/ Tholabal ilmi di pesantren Al Maliki Bahrul Ulum Tambakberas Jombang Jawa Timur, yang cukup jauh dari tanah tumpah darahnya yakni Bengkulu Sumatra. Ada semangat yang melatarbelakangi tulisan dijiwai oleh keadaan penulis dalam merantau; mengarungi lautan ilmu di pesantren asuhan Alm. KH. Wahab Chasbullah yang dikenal sebagai bapak pendiri dan penggerak NU.

Kesunyian Yaya’

-Penghujung Juli, 2012-             Ku ayunkan pena ini, demi mengukir peristiwa abadi. Terasa lelah, namun indah. Merintih tak sakit; tertawa tak bangga. Rasaku. Aku bagai meja usang yang siap kau tendang. Melayang berhamburan taktentu, menerawang rasa. Kata orang: ‘ Mencintai itu, menyatukan kedua sisi yang berlawan; memadukan kehendakhati menjadi jalinan yang teramat indah, berwarna.’ -Juli 2011-             Masih ku rekam jelas dalam benakku. Kusimpan indah dalam sudut hatiku yang paling dalam. Kala itu, aku dan selembar kertas membungkus keindahan. Bimbang-bimbang, aku ragu. Memenuhi permintaan sebuah majalah lokalan. “ sebuah guratan pena.” Kata pimpinannya.             “ Ndi, Andi!” itu suara Abah. Pengasuh Pesantren yang kutempati. Abah. Sapaan akrab untuk beliau dari para santri, termasuk aku. Jika ...