Postingan

QUR’AN UNTUK BUNDA

           Dia bernama V ernita, nita begitulah biasanya teman-temannya memanggilnya. Bidadari kecil nan malang, teramat malang bahkan. Semenjak bidadari kecil itu lahir tak lagi memiliki seorang ayah. Sang ayah meninggalkan dia ketia ia masih dalam kandungan. Ledakan tambang minyak itu merenggut nyawa ayah bidadari kecil itu. Sungguh tak terduga ledakan dasyat di lorong itu menjadikan seorang bidadari kecil rela menjadi yatim. Tapi apa mau dikata, urasan ajal bukan kita yang menentukan melainkan kehendak yang di atas.             Nita terlahir sempurna. Ia tumbuh menjadi bidadari kecil nan anggun dan cerdas. Tapi sayang duka pun harus ia jumpai lagi. Keadaan ekonomi yang melamah selepas kepergian ayahnya, memaksa sang bunda untuk meninggalkannya, demi kebahagiaan keluargannya kelak. Sang bunda harus memaksakan dirinya berpisah dengan bida...

Syair Tombo Ati

Dua Ribu Lima             Sebenarnya, sudah sejak subuh menyapa. Aku persiapkan seluruh kelengkapan yang akan ku bawa. Segala keperluan telah selesai aku kemas dalam koper terbesarku. Yah, hijrah. Merantau merajut keindahan abadi. Dalam keabadian hidup sejati.             Namun, hati ini belum sepenuhnya. Masih nampak secerca rasa bimbang dalam niat suci. Menghantui setiap tindakan. Resah. Mencoba menebak sesuatu yang akan kudapati. “ Kamu harus mondok nak, supaya hidupmu kelak bisa terarah. Mendo’akan orang tuamu ini. Biarpun bapak tak mengerti banyak tentang tuntunan Agama. Bapak mau kamu jauh lebih baik dari bapak.” Begitu kata yang selalu membayangiku tiga bulan terakhir ini. Bagiku mondok di pesantren sebuah momok yang menakutkan. Kebiasaan bebas yang aku jalani harus terbentur dengan sebuah peraturan yang memenjara; dihadapkan pada sebuah pengenalan huruf Hija...

SAYEMBARA MENULIS NOVEL DEWAN KESENIAN JAKARTA 2012 | Dewan Kesenian Jakarta | dkj.or.id

SAYEMBARA MENULIS NOVEL DEWAN KESENIAN JAKARTA 2012 | Dewan Kesenian Jakarta | dkj.or.id

Kota Para Pelopor

I             Udara pengap permulaan malam menyelimuti tempat tinggalku, tanah ini telah lama tak diguyur hujan. Ah, mungkin ini pengapnya hawa hujan hendak turun. Di ujung muara sana, geriuh para nelayan berbondong-bondong menepikan perahunya sembari membopong hasil tangkapan ke TPI seberang muara. Aku melihatnya jelas dari jendela lantai dua rumahku. Tepatnya dari arah kamarku yang sengaja ku buat menghadap ke pantai dengan jendela kaca bening berukuran lebar. Jendela itu sengaja ku buat lebar karena aku teramat suka dengan warna jingga langit sore; mengangahnya mentari terbenam dengan burung-burung kecil berterbangan tak tentu: tekadang saling jahil antar sesama, saling cumbu, menyambar ikan-ikan kecil yang lengah di atas perairan. Hem, sama halnya dengan prilaku kebanyakan manusia saat ini: jahil dengan sesamanya, bercumbu tanpa ada ikatan sekalipun dan yang lebih parah lagi begitu tega menyambar saudaranya sendiri;   me...

Diaryku Untuk Bunda*

Bun, setelah kepergian bunda meninggalkanku di Pesantren. Bunda tahu nggak apa yang akan kuberikan untukmu setelah citaku terkabulkan. Aku berfikir untuk memberimu sebuah catatan harian semasaku menimba ilmu. Ya, mungkin ini bukan sesuatu yang amat special . Tapi, setidaknya ini akan berarti buatku bun. Karena perjuangan, suka, duka akan kutumpahkan semuanya di situ. Mungkin ketika buku kecil ini sampai di tangan bunda, aku sudah seperti yang bunda harapkan. Atau bahkan, aku telah tiada di kehidupan ini. Juli 2005, aku memulai perjuanganku untuk menjadi manusia yang bisa diandalin; mampu merajut kehidupan dengan keindahan; melumpuhkan kerasnya hidup dengan senyuman. Untuk menuju itu semua, bukanlah sesuatu yang mudah. Mau nggak mau aku harus berproses mulai dari nol, layaknya kupu-kupu: berawal dari seekor ulat menjadi kepompong, kemudian kupu-kupu cantik. Mungkin itu gambaran sederhana menuju keindahan hidup. Tak gampang memang, tapi bukan berarti tak mungkin. Karena aku tak tahu k...